Pages - Menu

Kamis, 29 Agustus 2013

Amerika dan agenda perang buatan

Sejumlah pengamat senjata kimia sejagat berhasil memaparkan bukti-bukti penting yang tidak bisa disepelekan oleh Amerika Serikat terkait klaim penggunaan gas sarin oleh pemberontak Suriah. Para pemberontak mengklaim tentara Presiden Basyar al-Assad telah membunuh ribuan orang dengan senjata kimia milik militer pemerintah. Namun kenyataannya semua itu terbantahkan.

Presiden Amerika Barack Hussein Obama jelas saat ini sangat dipusingkan dengan pelbagai tekanan apakah dia dan sekutunya akan menyerang Assad, namun para ahli perang mengatakan jika Obama memutuskan membombardir Suriah mereka akan menuai kecaman internasional seperti yang mereka lakukan pada Irak satu dekade lalu.

Amerika lupa atau memang terlalu buta secara serampangan telah ikut dalam permainan pihak-pihak berkepentingan. Masa mereka menggempur Irak, zaman mantan Presiden George Walker Bush, senjata pemusnah massal menjadi selentingan dilancarkan musuh-musuh Saddam Hussein paling mengena yang akhirnya membuat Negara Adidaya itu mengerahkan pasukannya ke Ibu Kota Baghdad, seperti dilansir situs washingtonblog,com (28/8).

Harian the Independent melansir, klaim pemberontak Suriah ini mirip sekali dengan cara-cara konyol oposisi Saddam. Jika Amerika terpicu sedikit saja, bakal terjadi kerugian sama dengan apa yang mereka lakukan di Irak.

Laporan ini juga membeberkan Amerika telah menggelontorkan dana lebih dari Rp 33 triliun demi melengkapi artileri mereka di Baghdad dan tidak menghasilkan apa pun kecuali penderitaan bagi rakyat Irak. Bahkan hingga kini Negeri Paman Sam masih menuai kecaman atas apa mereka lakukan di sana.

Mantan petinggi perwira Amerika Dan Kaszeta juga pernah memperkuat satuan khusus senjata kimia mengatakan telah melihat rekaman dari klaim penggunaan gas sarin. "Tidak satu pun mereka mengobati, memeriksa, dan memotret korban tanpa mengenakan pelindung. Namun tidak satupun yang terkena efeknya. Padahal tingkat kontaminasi cukup tinggi dan membahayakan sebab bisa tertinggal di kulit dan pakaian dan dalam setengah jam bisa membuat muntah, hilangnya kontrol sebagian saraf, dan masalah penglihatan," ujar Kaszeta.

Paling lucu yakni temuan Steve Johnson dari Universitas Cranfield, Inggris. Sejumlah bukti dia melansir tim investigasi PBB datang bertepatan dengan serangan gas sarin itu muncul. "Menurut Anda, apa kesimpulan tentang ini?", ujarnya sengit.

Johnson juga mengklaim rekaman bukti penggunaan senjata kimia terlalu mengada-ada. Terlihat beberapa korban berbusa putih bukan hal diharapkan saat melihat cedera internal yakni mengeluarkan darah dan busa lebih kuning sebab kontaminasi gas beracun.

Sementara ahli perang dan senjata kimia Michael Rivero mempunyai banyak pertanyaan pada kejadian itu. Salah satunya mengapa Assad meluncurkan senjata kimia saat tim PBB tiba dan korban ribuan seperti diklaim pemberontak justru kebanyakan anak-anak dan perempuan. "Assad tidak sebodoh itu. Ini semua pemikiran mengada-ada pemerintah Amerika sebab putus asa sejauh ini mereka belum mendapatkan agenda perang," ujar Rivero tak kalah sengit.

Ucapan para ahli dan bukti di lapangan menjadi berbaur dengan temuan dokumen menyatakan Amerika sudah merencanakan perubahan rezim di Suriah sejak dua dekade lalu, sebelum Assad menggantikan posisi ayahnya Hafiz al-Assad.

Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar